Integralitas dakwah Kampus : Kenyataan dalam Mimpi

supermancakep's picture

Pernah ada sms jawaban dari seorang kader dakwah ketika diminta untuk ikut membahas alur kaderisasi tingkat 2 Keluarga Muslim Psikologi (KMP) begini, “ alur kaderisasi kedua IPLF bukan MH (Muslim Humaneering) tapi IPC (Islamic Psychology Class) kemarin… integrasi dengan KMP dan Nuansa Cuma di MH1.” Saat itu juga saya kaget, “Ya Allah kenapa jawabannya begini? Apakah kader ini tidak mengerti KMP?”.
Karena alasan itulah, saya menulis bagian ini. Integralitas Dakwah Kampus. Di tengah usia dakwah yang semakin bertambah dan tuntutan yang semakin berat, dakwah kampus itu tumbuh dan berkembang. Dakwah kampus mula-mula memasuki ranah siyasi, politik kampus. Tumbuh dan berkembangnya dakwah kampus di ranah siyasi menjadikan dakwah kampus semakin menarik untuk diikuti. Lalu pada awal era 2000-an, kembali dakwah kampus di tantang untuk mengembangkan dirinya. dakwah keilmuan. Dakwah yang hadir untuk menjawab tantangan perkembangan keilmuan di universitas. Dakwah yang hadir karena kebutuhan kader intelektual di masa mendatang. Dakwah kampus pun berkembang dengan menggunakan tiga senjata utama, dakwah kampus daawy, dakwah kampus siyasi, dan dakwah kampus ilmy seperti yang kita kenal sekarang.
Lalu, apakah ketiga dakwah kampus itu berjalan sendiri-sendiri? Tentu saja tidak, dari tiga senjata utama itu diharapkan terwujud dakwah yang terintegrasi. Ketiganya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Sehingga akan terwujud kader dengan ruhiyah yang bagus, mengerti tentang urgensi dakwah, kader yang mengikuti perkembangan kondisi kampus dan negara, dan kader yang memiliki keilmuan khusus yang akan mendukung dakwah secara keseluruhan. Kader yang dengan mantap menjawab pertanyaan seputar islam oleh orang lain, kader yang mampu menjawab jika ditanya tentang kondisi bangsa, dan kader yang diperhitungkan secara akademis di kampus.
Sayangnya, dibeberapa tempat integralitas dakwah hanya menjadi impian belaka, dipahami segelintir orang tapi tak mampu untuk diturunkan dalam bentuk nyata. Ini terjadi di fakultas saya, psikologi. Wajar saja jika pada akhirnya analisis dakwah kedepannya tidak dapat menjawab kebutuhan dan tantangan dakwah. bagian-bagian dakwah itu bergerak sendiri-sendiri seakan tidak membutuhkan satu sama lain. Hasilnya tentu saja kader yang kurang berkualitas, berbicara peran ilmu pengetahun islam tetapi tak mengerti islam. berbicara tentang politik islam dan pergerakan, tapi ngawur dalam konsepnya. Bahkan membuat analisis sosial secara sembarangan tanpa data yang valid, karena disibukkan aktivitas ke daawy- an saja. Lalu akan seperti apa dakwah kedepannya? Bukankah kualitas dan kuantitas menjadi tuntutan kader saat ini? Bagaimana mungkin kader yang tidak berkualitas bisa memperbanyak jumlah para da’i?
Melihat pada teori-teori kelompok dalam psikologi sosial….wajar jika terjadi proses kohesivitas dalam kelompok. Kelompok menjadi lebih kuat dan dapat berbagi mimpi bersama. Yang terjadi dalam dakwah kampus adalah pembentukan kelompok-kelompok. Lini A, B, dan C. saya sadar lini-lini itu diperlukan untuk perkembangan dakwah kedepannya. Tapi pada tataran kader strategis pun terjadi seperti ini,” Oh… itu khan dakwah A, kita lini C”. yang lebih sering merasakan kesusahan adalah dakwah siyasi, pengkaderan siyasi yang sulit, namun posisinya strategis di kampus. Sayangnya lini A dan lini C terkesan enggan membantu. Rapat dalam syuro pun hanya menyangkut aspek teknis yang cenderung reaktif. Menurut saya langkah strategis dakwah kampus hanya akan diperoleh dari menyatunya 3 lini ini, tanpa menghilangkan warna, seperti perkataan seorang teman waktu SMA, “pelangi itu indah karena dia warna-warni bukan sewarna”. Mimpi saya adalah pelangi itu dakwah kampus dan warna-warna yaitu lini dakwah itu bersatu, terikat. Bukan pada tataran teknis kerja dan renstra semata, tapi lebih pada pemahaman bahwa tidak ada kader A, Kader B, dan kader C. bukankah kader dakwah harus memiliki 3 kriteria itu?
Keluh kesah ini saya sampaikan setelah melihat kondisi dakwah psikologi. Integralitas dakwah kampus belum terasa. Sehingga saya memaklumkan adanya kemudahan-kemudahan dakwah di psikologi yang tidak termanfaatkan. Beberapa teman berkata, “ente (psikologi) Zalim terhadap kemudahan yang diberikan Allah.” . Ya Allah ampunilah dosa kami…. AAI psikologi adalah AAI terbaik, teraman, didukung banyak pihak kampus. Namun belum mampu menjadi pintu rekrutmen yang lebih masif dibandingkan fakultas lain. Keresahan ini semakin bertambah dengan adanya kader dakwah sekolah yang tidak mau mengerti dakwah kampus. Amanah sekolah yang saya rasa minim tantangan dan kendala menjadikan kader dakwah sekolah merasa nyaman. Psikologi memiliki cukup banyak kader dakwah sekolah.
Perbaikan memang perlu dilakukan dalam dakwah psikologi UGM. Terutama internal kader, forum komunitas belum terasa sebagai tempat kembali kader. Selama ini Forum komunitas hadir ketika ada perintah dan taklimat saja. Kaderpun merasa tidak memiliki dakwah kampus yang utuh. Saya merasa perbaikan pada komunitas dasar kader menjadi hal yang utama bagi dakwah kampus terutama di psikologi. Saat ini saya hanya bisa berkata bahwa dakwah kampus yang integral masih dalam bentuk impian, berwujud semu di lapangan.

Trackback URL for this post:

http://www.inspiratif.org/trackback/83
0
Your rating: None

Comments

Post new comment

Mollom CAPTCHA (play audio CAPTCHA)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated.