Masih inget ttg akhwat nyebelin yang pernah kuceritain? Ini lanjutannya.
Sebelumnya, saya mhon maaf jika ada komentar untuk tulisan pertama, "Akhwat nyebelin" yang kira-kira berbunyi:
"Ih, sok suci banget sih, ngata2in orang lain nyebelin. emang situ nggak nyebelin?!!"
respon saya: "saya siap jadi orang pertama yang membenarkan dan mengatakan bahwa saya akhwat nyebelin"
Akhwat nyebelin yang kuhadapi ada 3 tipe yang berbeda situasi dan kondisinya. Yang tipe satu, Alhamdulillah udah sadar. Bahwa dia lalai dan khilaf. Sadar dengan sendirinya, atas petunjuk dan kehendak Allah. Tanpa perlu bantuan saya. Memang beberapa waktu kami sempat menjaga jarak, berdiam-diaman dan mengurangi interaksi. Tapi Alhamdulillah sekarang kami udah mengubah sikap kami. Insya Allah kami saling mengikhlaskan. Semua atas kekuatan dan karunia Allah.
Yang tipe kedua, ternyata dia melakukan ‘hal itu’ karena kesadaran dari dirinya. Jadi, diingetin gimana, pun, dia akan bertahan pada pendapatnya bahwa dia lah yang benar. Karena dia melakukan itu secara sadar. Nggak mempan kalo diingetin pake dalil atau disuruh ikut kajian. Udah lewat. Lha wong ngaji di pondoknya aja udah hampir 3 tahun. Jadi, biarkan saja. Nanti kalo saatnya Allah berkehendak menjadikan dia jadi lebih baik, maka dia akan menjadi lebih baik. Insya Allah.
Nah, tipe ketiga ini yang agak repot. Karena dia bertingkah ‘menyebalkan’ selama ini, karena aku yang nyebelin. Karena dia sebel sama aku. Walaupun secara fisik, interaksi kami terlihat baik-baik saja. Masya Allah, terimakasih, Allah sudah memperingatkanku. Ini bener-bener menusuk ke hati. Astaghfirullah. Baiklah. Langkah selanjutnya: ngajak lunch/ breakfast together, trus minta jawaban jujur. “Apakah anti ada sebel sama saya, ukh?” Next question: “Afwan katsir, saya merasa bersalah sama anti. Tapi saya minta anti jujur kalo emang saya pernah menyakiti hati anti. Mungkin pernah ada sikap atau kata saya yang nggak berkenan di hati anti. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya mohon diikhlaskan. Kita saling mengikhlaskan, ya.”
-NB: kalo mau menegur kesalahan akhwat, perlu diingetin dengan cara khusus. Kalo nggak, bisa-bisa dia bersikap menyebalkan, bahkan super menyebalkan. (Eit, saya juga akhwat, lho. Suka lebay, lagi). Beda dengan ikhwan. Mengingatkan ikhwan lebih mudah. Langsung ke masalah n to the point, nggak masalah. Asal tetap dalam etika menasihati. Tidak di hadapan umum, tidak merendahkan, tidak merasa diri paling benar, dan ikhlas bertujuan untuk mengingatkan kesalahannya, dan tetap mendoakan. Insya Allah, kalo Allah Berkehendak, kun fa yakun..
Comments
kalau ikhwan nyebelin kayak
kalau ikhwan nyebelin kayak apa...?
Post new comment